Black Mirror: Bandersnatch – Do We Really Have Options?

Now they only get the illusion of free will, but really I decide the ending.

Black Mirror: Bandersnatch (2018)

Director: David Slade
Cinematographer: Aaron Morton
Scriptwriter: Charlie Brooker
Stars: Fionn Whitehead, Will Poulter

Bulan-bulan ini, Netflix lagi banyaaak sekali menawarkan serial/film bagus yang bisa ditonton kalau lagi gabut. Tapi alasan terbesar akhirnya saya mau subscribe dan bersusah-susah nge-hack DNS Indihome adalah karena keluarnya Bandersnatch di bulan Desember. Masalahnya, keseruan dan experience film ini cuma bisa dinikmati di Netflix karena; heyho, Bandersnatch adalah sebuah interactive movie. Mungkin memang muncul di platform-platform bajakan, tapi kita nggak akan bisa “main” di sana. LK21 dan torrent misal, Bandersnatch direkap seluruh pilihannya jadi sebuah cerita berdurasi lima jam. So, yeah… nggak ada salahnya kalau punya tabungan sedikit ATAU coba free trial sebulan kalau masih mau gratisan buat nyoba “main”, hehehe.

I don’t wanna talk much in this prologue, I want to just give you BATAS SPOILER.

SPOILER ALERT

Oke, kalau ada yang pernah main games semacam Life is Strange, Detroit: Become Human, Mystic Messenger, atau mungkin pernah baca buku-buku cerita Choose-Your-Own-Adventure semasa kecil, film ini sistemnya sama. Kita bisa memilih keputusan-keputusan buat si tokoh utama yang pada akhirnya menentukan alur cerita. Cuma Bandersnatch memasukan aspek-aspek Black Mirror yang sangat technological determinism, dark, intense, mind-bending, fucked-up dengan target market orang dewasa.

Premis Bandersnatch sebetulnya sederhana: tentang existential crisis yang dialami Stefan Butler (Fionn Whitehead). Dia adalah remaja 19 tahun yang suka bikin video games. Rancangan terbarunya, Bandersnatch (diadaptasi dari sebuah novel Choose-Your-Own-Adventure berjudul sama), dilirik oleh sebuah perusahaan software video game ternama, Tuckersoft. Di perusahaan itu, Stefan juga Colin Ritman (Will Poulter), seorang pengembang games terkenal sekaligus idolanya. Pada akhirnya film ini mengajukan sebuah pertanyaan besar: apakah kebebasan menentukan pilhan ada atau cuma ilusi?

Well, for the fun stuff, dari awal nonton kita sudah bisa mulai memilih. Hal-hal sesederhana sereal mana yang kepingin dijadiin sarapan: Frosties atau Sugar Puff, apakah dia mau bekerja dari kantor atau dari rumah, yada yada sampai nanti pilihan-pilihan itu bercabang ke banyaaak versi cerita dan ternyata menggiring kita pada satu dari lima belas endings yang tersedia.

Kelihatan seru, dong? Iyalah. Saya juga menikmati banget nonton sambil main seolah-olah bisa mengatur hidup Stefan. Kayak gimana di awal saya sangat berusaha untuk menyelamatkan hidup si mas karena saya terbawa masuk ke dalam film dan cerita saking saya berempatinya pada karakter. Pemikiran saya adalah Stefan harus selamat, sehat sentosa, hidup baik-baik dan game-nya rilis dengan lancar. Saya pilihkan dia hal-hal yang menurut saya bisa menunjang mimpi tersebut.

Then this movie literally blew my mind. Saya nonton tengah malam, ketika sendirian dan sepi, terus saya hampir merasa film itu kayak… nyata. Kayak emang saya sedang mengontrol hidup seorang cowok Inggris di masa lalu buat menentukan takdirnya. Bingung dan kagum, saya beberapa kali harus ngepause filmnya habis milih karena deg-degan. Seperti di bagian awal, seperti semua orang, saya pilih Stefan kerja di kantor. And then, secara meta dan semi breaking the fourth wall, Colin bilang, “Sorry, Mate. Wrong path.” I was like, okay… that was creepy. DAN DARI SITU AJA SAYA UDAH HISTERIS??? Kayak, duh, Stefan darling, I’m sorry if end up wrecking your life.

Tapi ternyata dalam kasus ending pertama yang saya dapatkan: saya bener-bener dibikin hampir menjerit. Ada scene di mana Stefan stres dan teriak-teriak, “Siapa yang ngontrol gue?!”. Yah, nggak tega, saya jawab aja kalau emang saya ngatur hidup dia dari Netflix. Breaking the fourth wall banget pokoknya! Cabang itu berakhir dengan kenyataan bahwa dia ternyata seorang aktor Netflix yang lagi shooting di set, tapi terbawa karakter sampe bingung sama kehidupan aslinya.

That ending was genius, also the “kindest” ending for his story. Because it turns out that none of the ending is a happy ending. Kalo nggak meta/breaking the fourth wall, rating game-nya jelek dan harus ngulang, atau game-nya nggak rilis. Lainnya yang lebih chaos: Stefan mati, Stefan bunuh orang, Stefan jadi gila, atau Stefan ga peduli lagi sama hidupnya. Yha, intinya Stefan bakal menderita aja terus-terusan. Poor him #StefanDeservesBetter #JusticeforStefan.

Tapi dalam mengorek ending-ending selanjutnya, saya kemudian sadar melalui narasi-narasi yang (sebetulnya) dibuat dengan jelas dan frontal, bahwa pilihan yang dimiliki audiens pun hanyalah sebuah ilusi. Kebebasan kita cuma ilusi. Kita berada dalam suatu situasi di mana seolah-olah kita diberi independensi untuk menetapkan, padahal kita cuma terjebak opsi-opsi yang telah ditentukan. Seperti Stefan dan kehidupannya, kita juga diatur oleh alur yang dibuat Netflix.

Pada akhirnya saya sadar bahwa bukan sayalah yang salah untuk membuat Stefan sial mulu. Cerita ini memang ingin Stefan menderita (akhirnya ya udah, saya berani deh bikin dia menderita macam-macam). Bahkan ending yang sebenarnya adalah ending di mana Stefan membunuh ayahnya, memutilasi badannya, melanjutkan coding Bandersnatch sampai rilis dan mendapat rating bintang lima. Fucked up? No shit! Tapi di ending itulah Stefan sendiri bilang dengan jelas menegaskan bahwa ini adalah ending yang seharusnya, bahwa dia bahagia, dan bahwa, “Now they only get the illusion of free will, but really I decide the ending.

I got chills! And heck, do we all just in the hole! We’re just too blind to see it!

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah: apakah kita benar-benar memiliki pilihan dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata atau (sama seperti Stefan dan kita sebagai audiens Bandersnatch) sebetulnya ada pihak-pihak lain yang mengontrol pilihan itu? Lantas kalau memang kita terjebak dalam suatu kehidupan tanpa pilihan, bagaimana caranya untuk keluar dari kendali pihak lain? To get out of the hole?

Pertanyaan ini beberapa kali saya pikirkan—dan sempat pula masuk dalam diskusi perkuliahan saya di kampus. Kalau kita mau bahas lebih dalam, bulan ini dalam Monthly Pop Culture Fun Fact, saya menulis tentang Adorno & Horkheimer dan kritik mereka mengenai pop culture/low art. Tapi ada yang harus digarisbawahi di sana:

Dua hal ini bisa menjelaskan pertanyaan saya.

Pertama, dalam buku mereka “Dialectic of Enlightment” ada sebuah chapter yang berjudul “The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception” yang menjelaskan bagaimana culture industry sebenarnya adalah sesuatu yang seragam—sesuatu yang mononton, sesuatu yang menjadi racun untuk mempertipis preferensi yang bisa diambil audiens/konsumen. Akan tetapi, alih-alih sadar, sistem kekuasaan yang ada menyamarkan kesamaan ini dengan alibi “berdasarkan apa yang diperlukan masyarakat”, yang menyebabkan resistensi menjadi sangat kurang dan kita semakin buta bahwa kita berada di bawah bayangan hegemoni. Akhirnya, terjadi sebuah struktur manipulasi besar; kita percaya bahwa oke, saya memiliki pilihan padahal di atas sana ada yang tertawa karena kita cuma boneka untuk melanggengkan kekuasaan mereka yang lebih besar.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya um… let’s say, kita mau beli Chatime. Seolah-olah kita memiliki pilihan berbagai macam rasa, dengan berbagai macam topping dengan beberapa pilihan gelas dengan bermacam-macam harga. Tapi coba tilik lebih dalam ketika mereka bilang “customize your own drink”. Bisa nggak sih kita kepingin chatime rasa cokelat dicampur taro, pake topping kolang-kaling dengan gelas segede galon dengan harga dua puluh ribu? Nggak. Nggak masuk akal, kalian pikir. Orang nggak ada pilihannya. Orang harganya lebih mahal dari itu. Mana dilayani. Yang ada dipanggilin sekuriti.

Yes! True!

That’s it, no? Bahwa sebetulnya pilihan kita dibatasi oleh kekuasaan yang lebih tinggi: pemilik dan pengambil keputusan menu Chatime? Dan ketika kita sadar, kita masih berpikir bahwa hal itu nggak masuk akal—bahwa teori ini yang gila untuk mengatakan demikian—itulah yang disebut hegemoni. Kita setuju akan sistem yang merugikan kita karena kita mau dan membela sistem itu. Pun tak berdaya dibodohi.

Oke, kalau dalam kasus Bandersnatch sebetulnya sudah saya jelaskan di atas, tapi menurun dari teori Adorno tadi, biar saya elaborasikan lagi. Ada dua perspektif yang bisa diamati di sini.

Satu, dari perspektif kita sebagai audiens kita seolah dibuat memiliki pilihan. Paling mudah, Sugar Puff atau Frosties untuk sarapan. Kita dibuat berpikir seolah-olah kita bisa menentukan bagaimana Stefan hidup—seolah-olah pilihan itu adalah pilihan kita. Tapi enggak. Sekali lagi, semua sudah ditentukan oleh tim produksi Bandersnatch. Kita nggak bisa milih Koko Crunch buat Stefan, misalnya. Atau kita nggak bisa milih Stefan makan nasi goreng. Cuma dua pilihan dan kita harus mengambil satu atau bakal ditentukan oleh mesin/kode dari tim produksi. Terlena, kita pikir kita yang punya kuasa. Padahal bukan; mereka yang punya kuasa.

Dua, dari sisi Stefan, misal: dia pikir dia punya kuasa untuk memilih bekerja di rumah. Tapi dengan pilihan yang demikian, dia ternyata nggak berdaya berada di bawah tangan kita. Dia bahkan sempet bilang dia nggak tau kenapa milih kerja dari rumah. Seakan ada dorongan yang tidak dia sadari dari luar, yaitu: kita, Netflix, sebagai sistem yang lebih “berkuasa”. Nah, karakter Colin adalah representasi orang yang sadar bahwa dia berada dalam sebuah sistem, tapi karena lemah, dia akhirnya tunduk dan tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya manut. Sadar, tapi apatis; lagi pula dia toh tidak bisa melawan sistem yang ada? Dia tidak bisa melawan kita.

Depressing? It is.

It is a bleak theory from a perspective of two pessimists, after all.

Dan inilah yang dari pemahaman saya diambil oleh Bandersnatch.

Salah satu kelebihan serial Black Mirror adalah pesan berupa kritik tajamnya mengenai isu-isu masa kini, dilihat dari pandangan teknologi dan biasanya bersifat distopian/suram (sesuai judulnya refleksi yang gelap; yang hitam). Dan sama seperti episode lain dari serial ini, Bandersnatch sebetulnya mengkritik bagaimana sesungguhnya masyarakat hidup pada sistem hegemoni kekuasaan yang mengekang. Buat saya hubungan Bandersnatch dan teori ini bisa dijelaskan melalui monolog Colin ketika dia halus LSD:

  • “Mirrors let you move through time.”
    • Yang buat saya menjadi metafor untuk series Black Mirror itu sendiri. Dia bercerita tentang setting 1984 untuk kita di tahun 2013. Atau bersetting di masa depan untuk audiens di masa sebelumnya. Lewat Black Mirror, kita bisa mengelana waktu sekaligus memprediksi keadaan manusia dengan efek dari isu tertentu.
  • “The government monitors people, they pay people to pretend to be your relatives, and they put drugs in your food and they film you.”
    • Seperti … presidential election yang akan datang dan bagaimana kedua kubu sebetulnya menarik elektabilitas dengan strategi mengangkat rakyat padahal tidak. Mereka membayar dan berpura-pura baik, padahal untuk kepentingan sendiri. So on, so on. Kesadaran kalian dibeli?
  • “He thinks he’s got free will but really, he’s trapped in a maze, in a system, all he can do is consume, he’s pursued by demons that are probably just in his own head. And even if he does manage to escape by slipping out one side of the maze, what happens? He comes right back in the other side.”
    • Well, well, well, isn’t it all of us?
  • “People think it’s a happy game, it’s not happy, it’s a fucking nightmare world and the worst thing is it’s real and we live in it. … I’ve given you knowledge. I’ve set you free.”
    • This is Black Mirror: Bandersnatch in a nutshell.

I can only tell you so much about this movie, tapi nggak akan bisa menjelaskan semua yang ada di pikiran saya. My mind buzzes like a storm right now. Yang jelas, film ini adalah masterpiece, true art dengan produksi yang sangat total. Selain karena idenya yang genius, pembuatannya juga keren banget: di-shoot linear beberapa versi (which means adegan yang diulang BUKAN editan tempel-sulam). Dan setotal itu sampe ada juga satu secret ending (ending ke-16) di mana kita bisa sampe ke website Tuckersoft dan download Nohzdyve, game-nya Colin!

But main thing in this analysis is: kita sebetulnya berada di bawah sebuah sistem yang membuat pilihan kita terbatas. Saya tahu kedengarannya gila atau terlalu radikal, pun saya tidak terlalu suka pada teorinya, tapi toh saya merasa ada benarnya juga. Dan sama seperti Stefan, Colin, atau kita sendiri sebagai audiens Bandersnatch, saya tahu sulit untuk melakukan resistensi dalam skala besar. Lagi pula, bagaimana caranya? Pun untuk apa?

Tapi pertanyaan saya yang terakhir tetap harus dijawab: bagaimaa caranya keluar dari kendali orang lain?

Menilik segala yang telah saya pikirkan, saya rasa … caranya adalah dengan sadar bahwa kita berada di kendali kuasa pihak lain.

Mungkin kita memang nggak bisa membeli Chatime rasa taro-cokelat dengan topping kolang-kaling dengan gelas segede galon berharga dua puluh ribu. Atau kita nggak bisa memilih ending di mana Stefan liburan ke Indonesia bareng papinya pake royalti game. Tapi paling enggak kita tahu bahwa pilihan kita dibatasi. Hanya saja, tetap kita tidak bisa menjadi Colin yang apatis, kita harus berusaha berpikir out of box. Demikian, kita bisa melawannya dengan hal-hal kecil untuk kepentingan kita sendiri. Menentukan prioritas dalam mengonsumsi Chatime (as kebutuhan tersier), misalnya. Atau mencari tahu apa yang terjadi di balik perusahaan Chatime dan pilihan rasanya. Atau dalam kasus Bandersnatch menulis sendiri ending bahagia jiwa raga buat Stefan dan merilisnya di blog pribadi.

Akankah hal-hal itu mengubah sistem? Hmm, nggak juga. Tapi hal-hal itu masih terlihat seperti sebuah pilihan buat saya. Pilihan alternatif yang kita ciptakan sendiri, meski tidak mampu mendobrak struktur yang ada. Well, paling tidak kita (secara pribadi) lepas dari hegemoni, ‘kan? We’re getting out of the hole.

So, yes, I think options are real; only it is limited.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s